Minggu, 24 Juli 2011

MALARIA


Nama Dosen: Alfa Bonga S,Kp
Mata Kulia : Farmakologi

MALARIA
Add caption

DISUSUN OLEH
Nama: Abuhari Manuama
Nim: E.10 11401 160








SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
MAKASSAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Penyakit Malaria dalam mata kulia Farmakologi Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk melengkapai nilai ujian final smester 3 (tingkat 1)
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :
1.Ibu Alfa sebagai Dosen mata kulia Farmakologi yang telah memberi tugas sebagai pelengkap niali mata kulia tersebut.
2.Kepada teman-teman yang telah membantu berikan saran dan segenap kata untuk bisa menyelesaikan tugas ini 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG.......................................................................................1
1.1 TUJUAN.......................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1PENGERTIAN...............................................................................................2
2.2 SEBAB DAN GEJALA..................................................................................3
2.3 PENGOBATAN............................................................................................4
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................................5
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

   Penyakit malaria adalah penyakit menular yang banyak di derita oleh penduduk di daerah tropis dan subtropis. Penyakit malaria banyak ditemukan pada penduduk yang tinggal di daerah rawa. Vektor yang berperan dalam penularan penyakit malaria adalah nyamuk anopheles. Plasmudium yang menyebabkan penyakit malaria berasal dari spesies Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malaria (Hiswani, 2004).

   Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa penyakit  malaria dapat dilakukan dengan berbagai metode. Salah satu metode yang digunakan untuk menemukan jenis dan stadium dari parasit penyebab malaria adalah sediaan darah malaria. Metode standar diagnosis malaria berdasarkan pada hasil pembacaan sediaan darah tipis dan sediaan darah tebal menggunakan mikroskop setelah sediaan darah diwarnai menggunakan larutan Giemsa dengan menggunakan konsentrasi tertentu. Kemampuan seorang analis baik dalam membuat sediaan darah, mewarnai dan memeriksanya sangat menentukan ditemukannya parasit malaria. (Depkes, 1999).

 Sediaan darah malaria dapat dibuat dalam 2 bentuk, yaitu sediaan darah tipis dan sediaan darah tebal. Ada tidaknya plasmodium pada sediaan darah dipengaruhi oleh stadium yang sedang terjadi pada penderita. Stadium itu meliputi Stadium dingin dan stadium demam. Demam disebabkan oleh pecahnya sizon darah yang telah matang dan masuknya merozoit darah kedalam aliran darah. (Hiswani, 2004).

1.2 Tujuan
·         Tujuan Umum
Untuk dapat mengetahui apa arti penyakit malaria,gejalah,penyebab,dan bagaimana cara pengobatannya
·         Tujuan Khusus
Untuk sebagai pelengkap nilai ujian final di mata kulia FARMAKOLOGI



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Malaria adalah penyakit yang ditularkan nyamuk menular dari manusia yang disebabkan oleh protista eukariotik dari genus Plasmodium. Ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, termasuk banyak dari Sub-Sahara Afrika, Asia dan Amerika. Malaria adalah umum di daerah ini karena jumlah yang signifikan dari curah hujan dan suhu tinggi yang konsisten, hangat, suhu yang konsisten dan kelembaban yang tinggi, bersama dengan air tergenang di mana larva matang, sediakan nyamuk dengan lingkungan yang diperlukan untuk pembibitan terus menerus. penyebab penyakit ini adalah protozoa, ditemukan pada tahun 1880 oleh Charles Louis Alphonse Laveran, sedangkan ia bekerja di rumah sakit militer di Constantine, Aljazair, ia mengamati parasit dalam hapusan darah diambil dari seorang pasien yang baru saja meninggal karena malaria hasil Penyakit dari perkalian parasit malaria dalam sel darah merah, menyebabkan gejala yang biasanya termasuk demam dan sakit kepala, dalam kasus yang parah berkembang menjadi koma, dan kematian.
Empat spesies Plasmodium dapat menginfeksi dan ditularkan oleh manusia. Penyakit yang parah sebagian besar disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Malaria disebabkan oleh Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae umumnya merupakan penyakit ringan yang jarang fatal. Sebuah spesies kelima, Plasmodium knowlesi, adalah zoonosis yang menyebabkan malaria di kera tetapi juga dapat menginfeksi manusia.Penularan malaria dapat dikurangi dengan mencegah gigitan nyamuk dengan distribusi kelambu murah dan penolak serangga, atau oleh nyamuk langkah-langkah pengendalian seperti penyemprotan insektisida di dalam rumah dan mengeringkan air berdiri di tempat nyamuk bertelur. Meskipun banyak yang sedang dikembangkan, tantangan memproduksi vaksin secara luas yang tersedia yang memberikan perlindungan tingkat tinggi untuk periode yang berkelanjutan masih harus dipenuhi. Dua obat juga tersedia untuk mencegah malaria di pelancong ke negara-negara endemik malaria ( profilaksis).
Berbagai obat antimalaria yang tersedia. Dalam 5 tahun terakhir, pengobatan infeksi P. falciparum di negara-negara endemik telah diubah dengan menggunakan kombinasi obat artemisinin mengandung derivatif. Malaria berat diobati dengan kina intravena atau intramuskular atau, semakin, yang artesunat turunan artemisinin yang lebih unggul kina pada anak dan orang dewasa Resistensi telah dikembangkan untuk obat antimalaria beberapa., Terutama klorokuin.
Setiap tahun, ada lebih dari 225 juta kasus malaria, menewaskan sekitar 781.000 orang setiap tahun sesuai dengan 2010 Laporan Malaria WHO Dunia, 2.23% dari kematian di seluruh dunia. Mayoritas kematian anak-anak muda di sub-Sahara Afrika.] Sembilan puluh persen dari malaria terkait kematian terjadi di sub-Sahara Afrika. Malaria adalah umumnya terkait dengan kemiskinan, dan memang bisa menjadi penyebab kemiskinan dan hambatan utama bagi pembangunan ekonomi.
2.2 Sebab dan Gejala
Seorang pasien datang ke praktek dokter. Ketika ditanya tentang keluhannya, spontan ia menjawab, "Saya sakit malaria, Dok. Tolong kasih saya obat malaria".
Hal seperti ini lazim terjadi. Penderita memvonis dirinya menderita malaria, hanya karena ia demam, sakit kepala, atau lemah lesu. Padahal, diagnosis malaria tidak segampang itu ditegakkan.
Malaria merupakan salah penyakit infeksi tropis dengan berbagai macam gejala. Gejala yang paling menonjol adalah demam disertai menggigil, dan berkeringat. Kemudian sakit kepala, mual-muntah, diare, kadang-kadang disertai nyeri otot dan pegal-pegal.
Orang yang baru pertama kali terkena malaria (belum mempunyai imunitas terhadap malaria) biasanya akan mengalami gejala berikut :
  1. Menggigil (selama 15-60 menit). Penderita seringkali membutuhkan selimut berlapis-lapis, saking 'merasa' dinginnya.
  2. Setelah itu, timbul demam, biasanya berlangsung 2-6 jam. Suhu tubuh sekitar 37,5-40 derajad Celcius. Kadang-kadang, jika malarianya parah, suhu bisa lebih dari 40 derajad Celcius.
  3. Sehabis demam, tubuh penderita akan mengeluarkan banyak keringat. Fase ini berlangsung sekitar 2-4 jam. Jumlah keringat kadang-kadang sangat banyak, seolah-olah penderita habis mandi. Nah, setelah fase 'keringat' ini, penderita akan merasa sehat kembali. Tapi bukan sembuh. Karena parasit malaria masih bercokol dalam darah dan jaringan tubuh penderita, sehingga rangkaian gejala di atas dapat berulang kembali.
Lain lagi pada penderita malaria yang pernah terkena malaria sebelumnya, atau tinggal daerah yang banyak kasus malarianya. Gejala di atas mungkin tidak terjadi berurutan, atau bahkan tidak timbul sama sekali. Malah gejala lain yang menonjol, misalnya nyeri otot atau sakit kepala.
Selain dari gejala-gejala yang telah disebutkan, pada pemeriksaan tubuh penderita malaria, mungkin ditemukan pembesaran hati serta limpa, dan warna kuning pada kulit atau mata.
Dalam kasus-kasus yang menimbulkan keraguan, dibutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk memastikannya. Pemeriksaan lab malaria cukup sederhana. Satu atau dua tetes darah jari diambil kemudian di'apus'kan di slide kaca. Setelah diproses (diwarnai), lalu di periksa di bawah mikroskop untuk mencari parasit malaria. Jika ada parasit, maka positif malaria.
2.3 Pengobatan
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin.Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena. Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.
Prinsip penanganan malaria secara umum adalah bila tanpa komplikasi diberikan peroral artesunat kombinasi dengan amodiakuin (artesdiakuin) atau coartem atau duo-cotexcin, sedangkan malaria dengan komplikasi diberikan artesunat 2,4 mg/kgbb pada jam ke 0 - 12 - 24 - 72 dan seterusnya sampai pasien bisa diterapi secara oral atau digunakan artemeter 3,2 mg/kgbb dilanjutkan dengan 1,6 mg/kgbb.










BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dengan proses pembuatan makalah tentang Penyakit Malaria dapat kami simpulkan bahwa malaria adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh nyamuk menular dari manusia yang disebabkan oleh protista eukariotik dari genus Plasmodium.Dan salah satu   Penyakit penyakit menular yang banyak di derita oleh penduduk di daerah tropis dan subtropis.
SARAN
Adapun saran yang saya ingin sampaikan yaitu perlu adanya peningkatan penyuluhan dan fasilitas di berbagai desa-desa tertinggal karena penyakit malaria adalah penyakit yang pada umumnya diderita oleh warga pedesaan (penyakit rakyat).

 

Jumat, 08 Juli 2011

KUALITAS DAGING SAPI DENGAN KEMASAN PLASTIK PE (Polyethylen) dan PLASTIK PP (Polypropylen) DI PASAR ARENGKA KOTA PEKANBARU HAFRI YANTI, HIDAYATI DAN ELFAWATI


Jurnal Peternakan Vol 5 No 1 Februari 2008 (22 - 27) ISSN 1829 - 8729
22
KUALITAS DAGING SAPI DENGAN KEMASAN
PLASTIK PE (Polyethylen) dan PLASTIK PP (Polypropylen)
DI PASAR ARENGKA KOTA PEKANBARU
HAFRI YANTI, HIDAYATI DAN ELFAWATI
Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Kampus Raja Ali Haji Jl. H.R. Soebrantas Km 16 Pekanbaru
Telp. (0761) 7077837, Fax (0761) 21129
Abstract
The objective of this study was to know the influence of two kinds of plastic packing, i.e. Polyethylen (PE)
and Polypropylen (PP), for total plate count, moisture, crude protein, pH and cooking loss of the fresh meat. The
experiment was designed using completely randomized block design with three treatments of packaging (i.e.
unpacking as control, PE plastic packing and PP plastic packing) and three blocks of sampling day. The result
showed that the packaging using PE and PP plastics decreased bacteria contamination, moisture, pH, cooking
loss and maintained of crude protein of the fresh meat. The PP plastic better than the PE plastic in maintain the
meat quality.
Keywords : Fresh meat, Packing, Polyethylen, Polypropylen,

PENDAHULUAN

Daging adalah bahan pangan yang bernilai gizi tinggi karena kaya akan protein, lemak, mineral serta zat lainnya yang sangat dibutuhkan tubuh. Usahauntuk meningkatkan kualitas daging dilakukan melalui pengolahan atau penanganan yang lebih baik sehingga dapat mengurangi kerusakan atau kebusukan selama penyimpanan dan pemasaran.

 Usaha penyediaan daging memerlukan perhatian khusus karena daging mudah dan cepat tercemar oleh pertumbuhan mikroorganisme. Daging sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme sehingga dapat menurunkan kualitas daging. Penurunan kualitas daging diindikasikan melalui perubahan warna, rasa, aroma bahkan pembusukan. Sebagian besar kerusakan daging disebabkan oleh penanganan yang kurang baik sehingga memberikan peluang hidup bagi pertumbuhan dan perkembangan mikroba perusak yang berdampak pada menurunnya daya simpan dan nilai gizi daging.

  Penjualan daging di pasar tradisional umumnya dilakukan dalam keadaan terbuka (tanpa penutup). Daging disajikan di lokasi yang kurang terjamin kebersihannya dan bersuhu udara tinggi (suhu kamar). Pada kondisi tersebut mikroba patogen dapat tumbuh dengan subur. Komariah dan Irma (2001) menyatakan bahwa daging yang beredar di Kota Bogor sudah tercemar mikroba patogen, yaitu dengan jumlah koliform 7.9 x 104 CFU/g, E. coli 3.0 x 104 CFU/g dan Salmonella terbukti positif. Penjualan daging secara terbuka juga menyebabkan konsumen memilih daging dengan memegangnya sehingga daging dapat terkontaminasi dan teksturnya menjadi lembek sehingga menurunkan kualitas daging tersebut.

 Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh pedagang-pedagang di pasar tradisional guna meningkatkan daya tahan daging adalah menutup atau mengemas daging dengan plastik. Pengemasan daging memegang peranan penting dalam mencegah atau mengurangi kerusakan oleh mikroorganisme serta gangguan fisik. Pengaruh lain dari kemasan plastik adalah melindungi produk dari perubahan kadar air karena bahan kemasan dapat menghambat terjadinya penyerapan uap air dari udara (Loekman et al. 1991).

Jenis plastik yang populer digunakan untuk pengemasan daging yaitu PE (polyethylen) dan PP (polyprophylen), karena kedua jenis plastik ini selain harganya murah, mudah ditemukan di pasaran, juga memiliki sifat umum yang hampir sama. Plastik PE tidakmenunjukkan perubahan pada suhu maksimum 93°C - 121°C dan suhu minimum -46°C – (-5)°C, namun memiliki permeabilitas yang cukup tinggi terhadap gas-gas organik sehingga masih dapat teroksidasi apabila disimpan dalam jangka waktu yang lama.

 Menurut Wheaton dan Lawson(1985) bahan kemasan plastik yang paling banyak digunakan adalah plastik PE karena mempunyai harga relatif murah, mempunyai komposisi kimia yang baik, resisten terhadap lemak dan minyak, tidak menimbulkan reaksi kimia terhadap makanan, mempunyai kekuatan yang baik dan cukup kuat untuk melindungi produk dari perlakuan kasar selama penyimpanan, mempunyai daya serap yang rendah terhadap uap air, serta tersedia dalam berbagai bentuk.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh plastik PE dan plastik PP terhadap total koloni bakteri, kadar air, kadar protein, pH dan susut masak daging sapi segar yang dijual di Pasar Arengka Pekanbaru.





MATERI DAN METODA

 Waktu dan Tempat
 Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2007 di Pasar Arengka Pekanbaru dan Laboratorium Mikrobiologi Pangan dan Kimia Pangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

 Materi
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging sapi segar bagian paha (topside) sebanyak 3 kg, media PCA (Plate Count Agar), kertas saring, aquades, aluminium foil, plastik PE dan plastik PP.

 Peralatan yang digunakan adalah timbangan analitik, colony counter autoclave, pH meter, oven listrik, gelas porselen dan gelas ukur.

 Metoda

 Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 3 kelompok. Sebagai perlakuan adalah jenis kemasan daging yaitu A1 (tanpa kemasan), A2 (Plastik PE) dan A3 (Plastik PP). Sebagai kelompok adalah hari pengambilan sampel yaitu B1 (hari pertama), B2 (hari kedua) dan B3 (hari ketiga).

 Peubah yang diukur adalah total koloni bakteri, kadar air, kadar protein, pH dan susut masak. Penelitian dimulai dengan mengambil daging sapi segar bagian paha seberat 1 kg dari RPH Kota Pekanbaru. Daging tersebut kemudian dipotongpotong dengan ukuran 9 cm x 9 cm x 4 cm. Potongan-potongan daging ini dibagi 3 sesuai perlakuan. Hal yang sama dilakukan kembali pada hari kedua dan ketiga.

Daging dengan perlakuan A1 dibiarkan terbuka (tanpa kemasan), daging dengan perlakuan A2 dikemas plastik PE dan daging dengan perlakuan A3 dikemas dengan plastik PP. Ketiga daging yang telah mendapat perlakuan tersebut dititipkan pada pedagang di Pasar Arengka Kota Pekanbaru selama 6 jam, kemudian dilakukan pengamatan sesuai dengan peubah yang diukur.

Analisis total koloni bakteri  kadar air dan kadar protein menurut Sudarmadji et al. (1981), analisis pH menurut SNI (1992) dan analisis susut masak menurut Soeparno (1994). Data hasil penelitian diolah secarastatistik menggunakan analisis sidik ragam menurut Rancangan Acak  Kelompok. Perbedaan pengaruh perlakuan diuji dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT).

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Kerusakan bahan pangan yang disebabkan oleh faktor lingkungan antara lain kerusakan mekanis, absorbsi dan interaksi dengan oksigen, serta kehilangan dan penambahan cita rasa yang tidak diinginkan dapat dikontrol dengan menggunakan kemasan (Winarno dan Srilaksmi 1982).

 Setelah dilakukan penelitian didapatkan rataan total koloni bakteri, kadar air, kadar protein, pH dan susut masak daging sapi seperti pada Tabel 1.

 Tabel 1. Rataan Total Koloni Bakteri, Kadar Air, Kadar Protein, pH dan Susut Masak Daging Sapi





1.       Total Koloni Bakteri

 Rataan total koloni bakteri daging sapi dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa penggunaan plastik sebagai pengemas daging berpengaruh sangat nyata (P<0.01) dalam menekan total koloni bakteri.

 Hasil uji DMRT menunjukkanbahwa total koloni bakteri daging sapi pada perlakuan A1 sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dibanding dengan total koloni bakteri pada perlakuan A2 maupun perlakuan A3. Total koloni bakteri pada perlakuan A2 sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dibanding perlakuan A3. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan plastik PP lebih baik dalam mencegah kontaminasi bakteri. Hal ini kemungkinan disebabkan karena plastik PP mempunyai daya tembus uap air yang lebih rendah.

Pertumbuhan bakteri tergantung pada pH dan kadar air yang ada dalam daging sapi. pH dan kadar air yang rendah akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga total koloni bakteri menjadi rendah. Hal ini didukung oleh Soeparno (1994) yang menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain adalah pH dan kadar air. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa perlakuan A3 (dikemas dengan plastik PP) mempunyai kadar air dan pH daging sapi yang terendah (Tabel 1).

Selain dipengaruhi oleh zat makanan, perkembangbiakan mikroorganismejuga dipengaruhi oleh faktor kelembaban, temperatur, pH dan ketersediaan oksigen (Lawrie 1979). Penggunaan plastik PP sebagai pengemas daging, dapat mencegah masuknya oksigen sehingga pertumbuhan bakteri dapat dihambat. Menurut Soeparno (1994) permukaan plastik PP lebih licin danpermeabilitasnya terhadap oksigen lebih rendah dibandingkan dengan plastik PE.Selain itu Buckle et al. (1987) menjelaskanbahwa daya tembus plastik PP terhadap O2 dengan ketebalan 2.5 (mm x 102) adalah 6.81 (cm3/cm2/mm/det/cmHg) x 1010 sedangkan daya tembus plastik PE dengan ketebalan 2.1 (mm x 102) adalah 10.5 (cm3/cm2/mm/det/cmHg) x 1010.

 Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-6366-2000 merekomendasikan batas maksimal cemaran bakteri pada daging segar yaitu 1 x 104 CFU/gram. Total koloni bakteri pada penelitian ini melebihi batas maksimal yang direkomendasikan oleh SNI No. 01-6366- 2000. Hal ini kemungkinan disebabkan daging sapi tersebut sebelumnya telah tercemar bakteri pada waktu pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH). Bahendra (2007) menyatakan bahwa total koloni bakteri daging sapi yang dipotong di RPH Kota Pekanbaru melebihi batas maksimal cemaran bakteri yang direkomendasikan oleh SNI No. 01-6366- 2000 karena belum diterapkannya sanitasi dan higienis pada RPH tersebut.

2.       Kadar Air

 Rataan kadar air daging sapi dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa penggunaan plastik sebagai pengemas daging berpengaruh sangat nyata (P<0.01) dalam menurunkan kadar air daging.

Hasil Uji DMRT menunjukkan bahwa kadar air daging sapi pada perlakuan A1 (tanpa kemasan) nyata lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan dengan kadar air daging sapi pada perlakuan A2 (dikemas plastik PE) dan sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dibanding perlakuan A3 (dikemas plastik PP). Begitu juga kadar air daging sapi yang dikemas dengan plastik PE nyata lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan dengan kadar air daging sapi yang dikemas dengan plastik PP.


Penurunan kadar air daging sapi dengan perlakuan pengemasan plastik berkaitan dengan penurunan total koloni bakteri pada daging. Hasil metabolisme bakteri antara lain adalah air yang dapatmeningkatkan kadar air dari daging. Semakin tinggi total koloni bakteri pada daging maka semakin tinggi pula kadar airnya. Pengemasan dapat mencegah terjadinya kontaminasi mikroorganisme sehingga kadar airnya menjadi turun. Fardiaz (1992) menyatakan bahwa semakin sedikit bakteri yang tumbuh, maka jumlah air yang dihasilkan juga semakin rendah. Pembungkus plastik dapat mencegah kontaminasi langsung bakteri yang berasal dari udara dan tangan manusia.

Penggunaan plastik PP sebagaipengemas daging dapat mencegah masuknya uap air karena plastik PP mempunyai daya tembus uap air yang lebih rendah dibanding plastik PE. Plastik PP juga memiliki daya lindung yang lebih,baik terhadap produk yang dikemas. Indonesia adalah negara yang beriklim tropis dengan kelembaban udara yang cukup tingggi, sehingga bila kemasan yang digunakan tidak cukup kedap airmaka produk akan terkontaminasi oleh air yang diikuti oleh berbagai jenis kerusakan lainnya (Syarief et al. 1989).

 Kadar air daging sapi pada penelitian ini berkisar antara 72.35 - 74.23% sedangkan kadar air daging sapi yang direkomendasikan oleh American Meat Institute Foundation (dalam Muchtadi dan Sugiyono 1992) adalah 66%. Tingginya kadar air daging sapi pada penelitian ini kemungkinan karena kadar air daging sapi juga sudah tinggi sejak dari RPH. Bahendra (2007) menyatakan bahwa kadar air daging sapi yang dipotong di RPH Kota Pekanbaru adalah 72.41%

3.       Kadar Protein

 Rataan kadar protein daging sapi dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa penggunaan plastik sebagai pengemas daging berpengaruh sangat nyata (P<0.01) dalam mempertahankan kadar protein daging.

 Hasil uji DMRT menunjukkan bahwa kadar protein daging sapi padaperlakuan A3 (dikemas plastik PP) sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dibandingkan dengan kadar protein daging sapi pada perlakuan A2 (dikemas plastik PE) dan perlakuan A1 (tanpa kemasan). Kadar protein daging sapi yang tanpa kemasan tidak berbeda nyata (P<0.05) dengan kadar protein daging sapi yang dikemas dengan plastik PE. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan plastik PP lebih baik dalam mencegah terjadinya penurunan kadar protein.

Penurunan kadar protein juga dipengaruhi oleh total koloni bakteri karena salah satu faktor yang dibutuhkan oleh bakteri untuk pertumbuhannya adalah protein. Pertumbuhan bakteri akan mempercepat denaturasi protein sehingga kadar protein akan menurun. Bakteri dapat memecah molekul-molekul kompleks dan zat-zat organik seperti polisakarida, lemak dan protein menjadi unit yang lebih sederhana. Pemecahan awal ini dapat terjadi akibat ekskresi enzim ekstraseluler yang sangat erat hubungannya dengan proses pembusukan bahan pangan (Buckle et al. 1987). Pengemasan daging dengan plastik akan mengurangi kontaminasi bakteri sehingga denaturasi protein yang diakibatkan oleh peningkatan jumlah bakteri dapat diminimalisir. Pengemasan daging dengan plastik PP lebih baik dalam mencegah terjadinya denaturasi protein oleh bakteri sehingga kadar protein daging dapat dipertahankan. Hal ini disebabkan karena plastik PP mempunyai permeabilitas uap air yang rendah dan permeabilitas terhadap gas sedang sehingga pertumbuhan bakteri dapat dihambat (Syarief et al. 1989).

 Kadar protein daging sapi pada penelitian ini berkisar 19.12 - 20.55%. Kadar protein daging sapi yang direkomendasikan oleh American Meat Institute Foundation (dalam Muchtadi dan Sugiyono 1992) adalah 18.8%.


4.       pH

 Rataan nilai pH daging sapi dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan plastik sebagai pengemas daging berpengaruh sangat nyata terhadap nilai pH (P<0.01).

Hasil uji DMRT menunjukkan bahwa pH daging sapi pada perlakuan A1 (tanpa kemasan) sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dibandingkan dengan pH daging sapi pada perlakuan A2 (dikemas plastik PE) dan perlakuan A3 (dikemas plastik PP). Demikian juga halnya, pH daging sapi pada perlakuan A2 (dikemas plastik PE) sangat nyata (P<0.01) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan A3 (dikemas plastik PP).

Rataan pH daging sapi yang didapatkan dari penelitian ini berbanding lurus dengan rataan total koloni bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah pH daging sapi, semakin sedikit jumlah koloni bakteri. Nilai pH daging segar menurut Bahar (2003) adalah 5.6.

 Menurut Buckle et al. (1987) pH akhir yang tercapai mempunyai pengaruh yang berarti dalam mutu daging. pH rendah (5.1-6.1) menyebabkan daging mempunyai struktur terbuka sehingga sangat baik untuk pengasinan, berwarnamerah muda cerah sehingga disukai olehkonsumen, mempunyai flavor yang lebih disukai dan mempunyai stabilitas yang lebih baik terhadap kerusakan oleh mikroorganisme. pH tinggi (6.2-7.2) menyebabkan daging mempunyai struktur tertutup atau padat dengan warna merah ungu tua, rasa kurang enak dan keadaan yang lebih memungkinkan untuk perkembangan mikroorganisme.

5.       Susut Masak

Rataan susut masak daging sapi dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan plastik sebagai pengemas daging berpengaruh sangat nyata (P<0.01) dalam menurunkan persentase susut masak daging sapi

 Hasil uji DMRT menunjukkan bahwa susut masak daging sapi pada perlakuan A1 (tanpa kemasan) nyata lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan dengan perlakuan A2 (dikemas plastik PE) dan sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dibandingkan dengan perlakuan A3 (dikemas plastik PP). Begitu juga halnya, susut masak daging sapi pada perlakuan A2 (dikemas plastik PE) nyata lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan dengan perlakuan A3 (dikemas plastik PP).


Susut masak daging sapi dipengaruhi oleh daya ikat air dan kadar air. Semakin tinggi daya ikat air, semakin rendah kadar air daging sapi. Hal ini diikuti oleh turunnya persentase susut masak daging sapi. Rataan susut masak daging sapi yang didapatkan dari penelitian ini menurun sebanding dengan penurunan kadar air. Daging yang mempunyai angka susut masak rendah, memiliki kualitas yang baik karena kemungkinan keluarnya nutrisi daging selama pemasakan juga rendah.

 KESIMPULAN

 Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Plastik PE dan PP sebagai bahan kemasan daging sapi segar selamapenjualan di Pasar Arengka Kota Pekanbaru dapat menurunkan kadar air, mempertahankan kadar protein, menurunkan nilai pH, menekan total koloni bakteri dan menurunkan persentase susut masak daging sapi. 2. Penggunaan plastik PP memberikan pengaruh lebih baik dalam mempertahankan kualitas daging sapi dibandingkan dengan plastik PE.

DAFTAR PUSTAKA

 Bahar B. 2003. Panduan Praktis Memilih Produk Daging Sapi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Bahendra. 2007. Kualitas Daging Sapi Bali (Bos sundaicus) di Rumah Potong Hewan Kota Pekanbaru. Skripsi Fakultas Pertanian dan Peternakan UniversitasIslam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

 Buckle KA, Edward RA, Fleet GH, Wooton M. 1987. Ilmu Pangan. Purnomo H, Adiono, penerjemah. Jakarta: UI Press. Terjemahan dari : Food Science.

 Fardiaz S. 1992, Analisis Mikrobiologi Pangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 Lawrie RA. 1979. Ilmu Daging. Parakkasi Aminuddin, penerjemah. Jakarta: UI Press. Terjemahan dari : Meat Science.

 Loekman S, Maamoen A, Ridwan S, Suparmi, Edison. 1991. Pengaruh Pengemasan terhadap Mutu Ikan Baung (Macrones sp) Asap. Jurnal Penelitian, Pusat Penelitian Universitas Riau.

 Muchtadi, T.R. dan Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bogor : IPB.

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Yogyakarta : UGM Press.

 Standar Nasional Indonesia. 1992. Cara Pengujian Makanan dan Minuman. Jakarta: Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Departemen Pertanian. [SNI 01-2891- 1992].

 Standar Nasional Indonesia. 2000. Daging Segar. Jakarta : Badan Standarisasi Nasional [SNI 01-6366 2000].

Sudarmadji S, Haryono B, Suhardi. 1981. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberty.

 Syarief R, Sassya S, St Isyana B. 1989. Teknologi Pengemasan Daging. Bogor: IPB. Wheaton FW and Lawson TB. 1985. Processing Aquatic Food Product. New York : John Wiley and Sons.

 Winarno FG dan Srilaksmi. 1982. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara Pencegahannya. Bogor : Ghalia Indonesia.